Bisnis hidroponik menjadi salah satu peluang usaha di bidang pertanian modern yang menawarkan nilai tambah melalui produk berkualitas dan strategi pemasaran yang tepat. Namun, dibalik peluang tersebut, pelaku usaha juga perlu menghadapi berbagai tantangan, mulai dari investasi awal, pengelolaan produksi, hingga pemasaran produk yang memiliki masa simpan terbatas.
Topik tersebut menjadi pembahasan dalam kuliah tamu Program Studi Magister Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada dengan menghadirkan Bu Sri Lestari, S.M., M.M., selaku pemilik FERTINDO. Dalam kegiatan ini, Bu Sri Lestari membagikan perspektif praktis mengenai peluang dan tantangan menjalankan bisnis hidroponik berdasarkan pengalamannya di dunia usaha.
FERTINDO yang berada di bawah CV Tirta Fertindo Pratama didirikan pada tahun 2014 dan bergerak di bidang hidroponik serta sistem pertanian modern. Kegiatan usahanya mencakup pemasaran hasil pertanian, pembangunan green house, penyediaan pupuk, bibit, dan sarana produksi pertanian, pelatihan dan edukasi pertanian, hingga wisata kebun.
Memahami Peluang Bisnis Hidroponik
Dalam pemaparannya, Bu Sri Lestari menjelaskan bahwa hidroponik merupakan metode budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah, dengan memanfaatkan air dan media tanam yang diperkaya nutrisi. Metode ini menawarkan sejumlah keunggulan antara lain efisiensi penggunaan lahan, pengendalian nutrisi tanaman, serta produk yang lebih bersih dan higienis.
Dari sisi bisnis, meningkatnya perhatian masyarakat terhadap gaya hidup sehat turut membuka peluang bagi produk sayuran dan buah premium. Produk hidroponik memiliki potensi pasar melalui supermarket, restoran, serta konsumen yang mengutamakan kualitas produk. Selain itu, pemasaran secara langsung melalui media sosial dan komunitas, serta kemitraan dengan toko buah dan restoran dapat menjadi alternatif untuk menjangkau konsumen.
Meski demikian, bisnis hidroponik tetap memiliki tantangan. Investasi awal untuk pembangunan sistem hidroponik, seperti pipa, pompa, nutrisi, dan green house relatif tinggi. Pengusaha juga perlu melakukan pemantauan secara rutin terhadap kualitas media tanam, tingkat keasaman (pH), konsentrasi nutrisi, serta potensi serangan hama dan ketergantungan pada listrik untuk sirkulasi air.
Bu Sri Lestari menekankan pentingnya menjadikan pengalaman budidaya sebagai bahan evaluasi. Kegagalan panen tidak semata-mata menjadi kerugian, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memperbaiki pengelolaan nutrisi pada siklus budidaya berikutnya.
Adaptasi Bisnis Menghadapi Tantangan Pandemi
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian mahasiswa muncul ketika Lutfi mahasiswa MMA angkatan 48 menanyakan tantangan dan peluang bisnis selama pandemi COVID-19, pengelolaan kebun mitra, serta penanganan pascapanen, khususnya pengemasan produk untuk pengiriman.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Bu Sri Lestari menceritakan bahwa pandemi menjadi salah satu masa tersulit bagi bisnisnya. Pada saat itu, pemasaran selada masih bergantung pada jaringan supermarket. Ketika supermarket tutup dan aktivitas masyarakat dibatasi, penjualan mengalami kendala sehingga sebagian sayuran yang tidak terserap pasar akhirnya diberikan ke kebun binatang.
Kondisi tersebut mendorong FERTINDO untuk beradaptasi melalui pemasaran daring. Usaha yang sebelumnya mengandalkan saluran penjualan konvensional mulai mengembangkan layanan FERTINDO Online dan bekerja sama dengan Gojek untuk menjangkau konsumen. Pada periode yang sama, melon dengan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) juga menjadi salah satu pengembangan usaha.
Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan pelaku usaha untuk menyesuaikan strategi pemasaran ketika menghadapi perubahan kondisi pasar. Selain pemasaran, pengelolaan kebun mitra juga menjadi perhatian. Bu Sri Lestari menjelaskan bahwa pemilihan mitra dilakukan secara selektif untuk memastikan kerja sama dapat berjalan dengan baik. Sementara itu, untuk pengiriman melon jarak jauh, penggunaan kardus menjadi salah satu pilihan pengemasan agar produk dapat dikirim kepada konsumen.

Strategi Pemasaran dan Pentingnya Mengenali Konsumen
Pertanyaan mengenai strategi pemasaran juga disampaikan oleh Dwito mahasiswa MMA angkatan 52. Ia menanyakan cara FERTINDO mengoptimalkan media sosial, memasarkan produk yang mudah rusak, serta menyesuaikan produk dengan segmen pasar.
Bu Sri Lestari menjelaskan bahwa pembuatan konten menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan media sosial. FERTINDO juga memanfaatkan WhatsApp untuk memberikan informasi terbaru mengenai jadwal panen kepada konsumen. Dengan demikian, konsumen dapat mengetahui ketersediaan produk sebelum melakukan pembelian.
Dalam menentukan saluran pemasaran, pengusaha perlu memahami karakteristik konsumen yang dituju. Produk premium memiliki segmen pasar tersendiri sehingga FERTINDO memasarkannya melalui supermarket. Strategi tersebut perlu didukung oleh upaya memperkenalkan produk kepada calon konsumen agar mereka dapat mengenali kualitas yang ditawarkan.
Menurut Bu Sri Lestari, pengalaman konsumen dalam mencoba produk menjadi salah satu modal penting dalam pemasaran. Melalui kegiatan mencicipi produk atau icip-icip, calon konsumen dapat mengenal kualitas dan rasa produk secara langsung. Pendekatan ini menjadi salah satu cara untuk membangun ketertarikan konsumen terhadap produk yang ditawarkan.
Membuka Peluang Magang dan Riset bagi Mahasiswa
Diskusi juga membahas peluang kolaborasi antara FERTINDO dan lingkungan akademik. Bu Any selaku dosen MMA menyampaikan apresiasinya terhadap pengalaman Bu Sri Lestari sebagai pengusaha perempuan muda. Ia menilai bahwa pengalaman praktis yang dibagikan dalam kuliah tamu dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus membuka peluang kerja sama dengan mahasiswa, khususnya untuk kegiatan magang dan penelitian.
Menurut Bu Any, pengalaman di dunia usaha dapat membantu mahasiswa memahami perilaku dan etika dalam lingkungan kerja. Selain bekal akademik, mahasiswa juga perlu menguasai keterampilan teknis yang dibutuhkan di lapangan. Pengalaman FERTINDO dalam menjalin kemitraan dengan investor dan petani, mengelola pasokan bahan, serta memasarkan produk dari petani mitra juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi topik penelitian.
Menanggapi hal tersebut, Bu Sri Lestari menyampaikan bahwa FERTINDO terbuka terhadap mahasiswa yang ingin melaksanakan magang, baik pada bidang sayuran, tomat, maupun melon. Namun, ia menegaskan bahwa kegiatan magang harus menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pekerjaan, bukan sekedar melakukan pencatatan atau mengamati kegiatan usaha.
Keterbukaan tersebut memberikan peluang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktis, memahami proses bisnis pertanian modern, serta menghubungkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan kebutuhan dunia kerja.
Menghubungkan Pembelajaran Akademik dengan Praktik Bisnis
Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa MMA UGM memperoleh gambaran mengenai pengelolaan bisnis hidroponik secara lebih menyeluruh, mulai dari kegiatan produksi, pengelolaan kebun mitra, penanganan pascapanen, hingga strategi pemasaran. Pengalaman FERTINDO juga memperlihatkan bahwa keberlanjutan usaha tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga oleh kemampuan membaca peluang, mengenali konsumen, membangun kemitraan, dan beradaptasi terhadap perubahan pasar.
Kegiatan ini sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha melalui kegiatan magang, penelitian, maupun pembelajaran lapangan. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan dapat memperluas wawasan mengenai praktik manajemen agribisnis sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan dan peluang di sektor pertanian modern.
Kegiatan kuliah tamu ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis pengalaman praktis dan penguatan kompetensi mahasiswa, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pembahasan mengenai pengembangan usaha, peluang kerja, dan kemitraan di sektor agribisnis. Selain itu, pengenalan praktik pertanian modern dan pengelolaan bisnis hidroponik juga sejalan dengan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui upaya mendorong pengelolaan produksi dan pemasaran hasil pertanian secara lebih efektif. Melalui kegiatan ini, MMA UGM berupaya memperkuat keterkaitan antara pendidikan tinggi dan praktik dunia usaha guna mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten dalam menghadapi dinamika sektor agribisnis.
