Menjalani kuliah S2 sering kali membuat mahasiswa harus pandai membagi waktu antara perkuliahan, tugas, dan aktivitas lainnya. Hal ini juga dirasakan oleh Syifa Azzahra, mahasiswa Magister Manajemen Agribisnis (MMA) angkatan 51, Universitas Gadjah Mada. Di tengah kesibukan kuliah, Syifa aktif mengembangkan akun media sosialnya hingga kini dikenal sebagai content creator yang bekerja sama dengan berbagai brand.
Perjalanan tersebut dimulai pada Juni 2025. Saat itu, Syifa memutuskan untuk lebih konsisten membuat konten di TikTok. Awalnya, ia hanya ingin menekuni hobi berbagi cerita dan pengalaman sehari-hari. Namun, seiring berjalannya waktu, aktivitas tersebut mulai memberikan peluang baru.
Melalui fitur TikTok Go dan TikTok Affiliate, Syifa memperoleh penghasilan pertamanya dari media sosial. Tidak lama kemudian, beberapa brand mulai menghubunginya untuk bekerja sama, terutama dalam pembuatan konten ulasan kafe dan tempat kuliner.
“Aku awalnya cuma ingin konsisten. Tapi ternyata dari situ bisa berkembang dan membuka banyak peluang,” ujarnya.


Seiring bertambahnya audiens, Syifa mulai aktif mengembangkan kontennya di Instagram. Menurutnya, TikTok dan Instagram memiliki peran yang berbeda. TikTok membantunya menjangkau audiens yang lebih luas, sedangkan Instagram menjadi ruang untuk membangun kedekatan dengan pengikutnya.
Ketertarikannya pada dunia konten berangkat dari kebiasaan berbagi pengalaman. Melalui media sosial, ia sering membagikan rekomendasi tempat makan, aktivitas menarik, hingga kesehariannya sebagai mahasiswa S2. Selain itu, ia juga kerap membuat konten tentang olahraga dan gaya hidup sehat yang menjadi bagian dari rutinitasnya.
“Aku suka berbagi pengalaman. Buatku, konten itu cara untuk menyampaikan hal positif dan mengajak orang hidup lebih sehat,” jelasnya.
Meski aktif sebagai content creator, Syifa tetap menempatkan perkuliahan sebagai prioritas utama. Ia memanfaatkan waktu luang di sela-sela aktivitas akademik untuk membuat konten. Dalam satu minggu, ia biasanya mengunggah dua hingga tiga konten, menyesuaikan dengan jadwal kuliah dan tugas yang sedang dikerjakan.
Seluruh proses pembuatan konten juga ia lakukan sendiri, mulai dari mencari ide, menyusun konsep, mengambil video, mengedit, hingga mengunggahnya ke media sosial. Dari proses tersebut, Syifa merasa banyak belajar tentang konsistensi, ketelitian, dan kemampuan mengelola pekerjaan secara mandiri.
“Dari proses itu aku belajar soal konsistensi, ketelitian, dan menjaga kualitas konten,” katanya.
Di balik aktivitasnya sebagai content creator, Syifa juga menghadapi tantangan, salah satunya mencari ide konten baru. Untuk mengatasinya, ia rutin mengikuti tren di media sosial dan berdiskusi dengan sesama content creator untuk mendapatkan inspirasi.
Bagi Syifa, pengalaman ini tidak hanya memberinya kesempatan untuk bekerja sama dengan berbagai brand, tetapi juga membantu dirinya berkembang secara pribadi. Ia merasa menjadi lebih percaya diri dan lebih mengenal kemampuan yang dimilikinya.
“Dampak paling terasa justru dari diri sendiri. Aku jadi lebih percaya diri dan lebih mengenal diriku,” ungkapnya.
Melalui pengalamannya, Syifa berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu mencoba hal-hal baru yang sesuai dengan minat mereka.
“Mulai saja dari apa yang kamu suka. Konsistensi lebih penting daripada menunggu semuanya sempurna di awal,” pesannya.
Pengalaman Syifa menunjukkan bahwa aktivitas di luar perkuliahan dapat menjadi ruang untuk mengembangkan keterampilan sekaligus membuka peluang karier di era digital. Kisah ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan kompetensi mahasiswa, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemanfaatan platform digital untuk menciptakan peluang ekonomi dan kerja sama profesional.