Bagi mahasiswa S1 di UGM, program fast track adalah sebuah kesempatan yang bisa dimanfaatkan. Program ini merupakan jalur percepatan studi yang memungkinkan mahasiswa menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister dalam waktu sekitar lima tahun. Dalam skema ini, semester 7 dan 8 di jenjang S1 dijalani bersamaan dengan semester 1 dan 2 di jenjang S2 sehingga proses studi dapat berlangsung lebih efisien.
Salah satu yang memilih jalan ini adalah Devira Putri Rahmalia, mahasiswa Program Magister Manajemen Agribisnis (MMA) UGM yang kini tengah menyelesaikan tesisnya. Sejak awal kuliah S1, ia sebenarnya sudah mengenal program ini lewat berbagai sosialisasi yang diadakan fakultas. Namun, seperti banyak mahasiswa lain, ia juga sempat merasa ragu dan maju mundur karena belum sepenuhnya siap. Pada akhirnya, Devira memutuskan untuk menjalani fast track karena melihat ada banyak hal yang bisa ia dapatkan dari program ini. Salah satu yang paling ia pertimbangkan adalah efisiensi waktu studi. Bagi Devira, hal itu penting karena sejalan dengan rencana jangka panjangnya yang ingin fokus di ranah akademik. Selain itu, ia juga melihat fast track sebagai kesempatan yang sayang jika dilewatkan, apalagi program ini memang terbuka bagi mahasiswa UGM.
Memilih Magister Manajemen Agribisnis

Pilihan Devira untuk melanjutkan studi di Magister Manajemen Agribisnis juga berangkat dari minat yang sudah tumbuh sejak S1. Dari awal perkuliahan, ia memang sudah lebih tertarik pada bidang manajemen agribisnis. Karena itu, ketika sampai pada keputusan untuk melanjutkan studi S2, ia merasa MMA adalah pilihan yang paling sesuai.
Menurut Devira, yang menarik dari bidang ini adalah karena ilmu manajemen terasa sangat dekat dengan penerapannya di lapangan. Di MMA, mahasiswa tidak hanya belajar manajemen secara umum, tetapi juga melihat bagaimana pendekatan tersebut dipahami dalam konteks sektor pertanian. Bagi Devira, cara pandang seperti ini membuat proses belajar terasa lebih luas dan memberi perspektif baru dalam memahami agribisnis.
Penelitian yang berkembang, tapi tetap sejalan

Dalam perjalanan studinya, Devira melihat bahwa penelitian yang ia ambil di S1 dan S2 memang tidak sepenuhnya linear. Saat S1, ia membahas daya saing komoditas melon. Sementara di S2, fokusnya beralih ke aspek hilirisasi atau peningkatan nilai tambah sebagai salah satu upaya meningkatkan daya saing komoditas kakao.
Meski berbeda komoditas, menurut Devira keduanya masih berada dalam jalur yang searah. Ia justru merasa perubahan fokus ini membantunya memahami subsektor pertanian dari sudut yang lebih beragam. Pengalaman itu juga memberinya ruang untuk belajar lebih luas, tanpa harus benar-benar keluar dari bidang yang ia minati.
Tantangan terbesar ada pada membagi waktu
Bagi Devira, tantangan yang paling terasa selama menjalani fast track adalah soal membagi waktu. Menjalani kuliah S2 sambil menyelesaikan skripsi S1 tentu bukan hal yang mudah. Namun, ia merasa kondisi itu justru membantunya menjadi lebih produktif karena setiap hari ada dorongan untuk menyelesaikan satu per satu tanggung jawab yang ada. Ia pun bersyukur karena studi S1-nya tetap bisa selesai tepat waktu.
Saat masuk ke tahap penyusunan tesis, ia kembali harus menyesuaikan ritme. Apalagi, Devira adalah mahasiswa fast track semester ganjil dimana ia diharuskan lulus dalam waktu 3 semester. Hal ini tentu bukanlah suatu hal yang mudah. Saat ini Devira mengaku masih terus belajar mengatur waktu agar proposal dan tahapan seminar dapat diselesaikan dengan baik.
Belajar dari kelas, organisasi, dan pengalaman di luar kampus

Selama S1, Devira cukup aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Ia bergabung di Departemen Informasi dan Komunikasi, Keluarga Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian selama dua periode, aktif di Kementerian Media Kreasi BEM KM Fakultas Pertanian, dan ikut dalam beberapa kepanitiaan yang banyak berkaitan dengan desain. Pengalaman-pengalaman itu menjadi bagian penting dari proses belajarnya di luar ruang kelas.
Saat memasuki S2, Devira merasa lebih banyak memanfaatkan kesempatan yang dulu sempat terlewat. Ia mengikuti berbagai kuliah tamu dan pelatihan pertanian yang diadakan oleh MMA maupun Fakultas Pertanian. Ia juga sempat mengikuti Changemaker Youth Leadership Camp 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu, bersama teman-teman MMA angkatan 50, ia juga berkesempatan mengikuti company visit dan university visit ke Malaysia selama empat hari. Bagi Devira, pengalaman-pengalaman ini menjadi pelengkap yang memberi banyak pelajaran selama studi magister.
Suasana belajar yang berbeda antara S1 dan S2

Menurut Devira, perbedaan yang paling terasa antara S1 dan S2 ada pada suasana belajarnya. Saat S1, ia merasa pembelajaran masih banyak berfokus pada teori. Pada masa itu, ia juga mengaku masih cukup malu untuk bertanya atau terlibat aktif dalam diskusi di kelas. Meski demikian, masa S1 tetap memberi banyak pengalaman lewat praktikum dan kegiatan lapangan.
Ketika masuk S2, ia mulai memahami bahwa mahasiswa memang dituntut untuk lebih proaktif. Lingkungan kelas yang diisi oleh mahasiswa dengan latar belakang yang beragam juga membuat suasana belajar terasa lebih hidup. Ada yang masih fresh graduate, ada pula yang sudah memiliki pengalaman kerja. Menurut Devira, situasi seperti ini justru memberinya ruang untuk belajar dari banyak sudut pandang dan perlahan membuatnya lebih berani untuk ikut berdiskusi.
Ia juga melihat bahwa beberapa tugas di S2 terasa lebih dekat dengan kondisi nyata. Dalam mata kuliah tertentu, mahasiswa diminta turun langsung ke lapangan untuk mewawancarai petani maupun koperasi, lalu menyusun hasilnya dalam bentuk makalah. Pengalaman semacam itu membuat proses belajar terasa lebih nyata dan tidak berhenti di ruang kelas saja.
Hal lain yang membekas bagi Devira selama menjalani S2 adalah lingkungan belajar di MMA. Ia merasa bertemu dengan banyak teman yang memiliki kekuatan masing-masing di bidangnya. Bukan hanya dengan teman seangkatan, hubungan dengan kakak tingkat, adik tingkat, dan dosen juga terasa cukup dekat.
Bagi Devira, kedekatan itu memberi pengalaman belajar yang berbeda. Ada banyak hal yang ia dapatkan bukan hanya dari materi di kelas, tetapi juga dari obrolan-obrolan kecil dan interaksi sehari-hari selama masa studi. Dari situ, ia merasa mendapatkan banyak pandangan baru yang membantu proses belajarnya berkembang.
Rencana setelah lulus
Saat ditanya soal rencana ke depan, Devira mengaku bahwa jalan yang ingin ia ambil masih bisa berubah. Namun, untuk saat ini, ia ingin lebih dulu mencari pengalaman kerja, terutama yang masih dekat dengan dunia akademik. Sambil menjalani itu, ia juga ingin mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi ke jenjang S3 sebagai bekal untuk langkah berikutnya.
Rencana itu juga menjadi salah satu alasan mengapa fast track terasa relevan baginya. Bukan semata-mata soal lulus lebih cepat, tetapi juga soal menyiapkan diri lebih awal untuk tujuan yang ingin dicapai.
Lewat perjalanan Devira menjalani fast track, terlihat bahwa kuliah bukan hanya soal menyelesaikan studi, tetapi juga tentang proses belajar, menyiapkan diri, dan memperluas wawasan. Pengalaman ini sejalan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas karena Devira bertumbuh lewat perkuliahan, riset, dan berbagai pengalaman di luar kelas. Di saat yang sama, fokus belajarnya di bidang agribisnis juga berkaitan dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan dan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur karena menyentuh isu pertanian, daya saing komoditas, dan nilai tambah hasil pertanian. Sementara itu, langkah Devira dalam menyiapkan diri untuk dunia akademik dan kerja juga mencerminkan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Ingin tahu lebih lanjut soal fast track atau MMA UGM?
Kunjungi laman resmi program studi untuk mendapatkan informasi akademik, kegiatan mahasiswa, dan berbagai pembaruan terbaru.